Dilema Inklusi Keuangan: Mengapa Bank Emok Tetap Bertahan di Tengah Pesatnya Perkembangan Fintech?
Kata Kunci:
Bank Emok, Layanan Keuangan Berbasis Teknologi, Inklusi KeuanganAbstrak
Perkembangan teknologi keuangan seperti fintech dan bank digital telah memperluas akses layanan keuangan, namun praktik Bank Emok - pinjaman informal berbunga tinggi berbasis komunitas masih marak di masyarakat. Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi ini mengkaji mengapa Bank Emok tetap bertahan di tengah kemajuan layanan keuangan digital, dengan mewawancarai dua pengguna aktif (satu ibu rumah tangga dan satu pelaku UMKM) di Sukabumi. Temuan menunjukkan kemudahan akses, persyaratan sederhana tanpa jaminan, pencairan cepat, dan sistem tanggung renteng menjadi faktor utama kelangsungan Bank Emok. Nilai gotong royong dan kepercayaan komunitas turut memperkuat eksistensinya. Namun, bunga tinggi (10-20%/bulan) dan angsuran mingguan justru membebani keuangan, menghambat usaha, dan memicu siklus utang baru. Meski inklusi keuangan nasional meningkat, disparitas perkotaan-pedesaan masih signifikan. Fintech belum sepenuhnya terjangkau karena keterbatasan pemahaman digital dan infrastruktur. Penelitian merekomendasikan: (1) pendekatan hybrid integrasi sistem formal-informal, (2) literasi keuangan berbasis budaya, (3) regulasi lebih inklusif, serta (4) produk pinjaman darurat berbasis komunitas untuk menciptakan sistem keuangan yang benar-benar inklusif.

